hadits tarbawi II
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN PENCIPTA
A. Hadits.
عَنْ
اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ كَا نَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَاَتَاهُ جِبْرِيْلُ فَقَالَ مَالاِيْمَانُ. قَالَ
الاِيْمَانُ اَنْ تُؤْمِنَ بِلبَعْثِ. قَالَ مَاالاِسْلاٰمُ. قَالَ الاِسْلاَمُ
اَنْ تَعْبُدَ اللهَ وَلاٰ تُشْرِكَ بِهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤَدِّى
الزَكٰاةَ المَغْرُوْضَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ. قَالَ مَاالاَحْسَانُ. قَلَ اَنْ
تَعْبُدَ اللهَ كَاَنَّكَ تَرَاهُ فَاِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَاِنَّهُ بَرَاكَ.
قَالَ مَتَى السَّاعَةُ. قَالَ مَا المَسْئُوْلُ عَنْهٰا بِاَعْلَمَ مِنَ
السَّائِلِ وَسَاُخْبِرُكَ عَنْ اَشْرَاطِهَا اِذَا وَلَدَتِ الاَمَةُ رَبَّهَا
وَاِذَا تَطَاوَلَ رُعَاةُ البَهْمِ فِى البُنْيَانِِ فِى خَمْسِ لاَ
يَعْلَمُهُنَّ اِلاَّ اللهَ ثُمَّ تَلاَ النَّبِيُّ صَلَّ اللهُ َلَيْهِ وَسَلَّمَ
اِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمَ السَّاعَةِ الاَية ثُمَّ اَدْبَرَ فَقَالَ رُدُّوْهُ
فَلَمْ يَرُوْا شَيْئًا فَقَالَ هَذَا جِبْرِيْلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ
دِيْنَهُمْ.
B.Terjemahan
Hadits.
Dari Abu Hurairah, katanya : Pada suatu hari Nabi Muhammad SAW tampak
keluar dimuka orang banyak, kemudian didatangi Jibril AS, lalu Jibril AS
berkata : “Apakah iman itu?” Nabi Muhammad menjawab : “Iman itu adalah anda
yang wajib beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, bertemu dengan Allah pada
hari kiamat dan dengan demikian wajib beriman pula akan adanya hari akhir itu,
juga beriman kepad para Rasul-Nya dan beriman pula dengan adanya ba’ats yaitu
hidup sesudah mati pada hari kiamat lalu diadakan perhitungan amal dan akhirnya
ada juga yang masuk surga dan ada yang masuk neraka .
Jibril a.s berkata pula : apakah islam itu
?’ Beliau saw .menjawab :”islam ialah anda wajib menyembah kepada Allah dan
tidak mempersekutukan yakni menyamakan sesuatu denganNya, juga mendirikan
sholat, menunaikan zakat yang diwajibkan seta berpuasa dalam bulan ramadhan,”
Jibril bertanya lagi : “apakah ihsan itu ?
Beliau s.a.w. :”ihsan artinya berbuat
kebaikan itu ialah hendaknya anda menyembah
Allah seolah – olah anda dapat
melihatNya, tetapi jikalau anda tidak dapat berbuat seolah – olah Allah
melihatNya, maka anda wajib meyakinkan bahwasanya Allah itu selalu melihat
perbuatan anda “.
Jibril bertanya sekali lagi : “kapan saat
tibanya hari kiamat ?’’ Beliau bersabda : “orang yang ditanya mengenai itu yakni Nabi s.a.w.
tidaklah lebih tau dari pada yang bertanya yakni jibril a.s. tetapi aku akan
memberitahukan kepada anda mengenai tanda – tandanya, yaitu apabila seorang
hamba sahaya wanita telah melahirkan tuanya sebab hamba sahaya wanita itu
apabila dikawin oleh tuanya sendiri lalu melahirkan anak, maka anaknya menjadi
merdeka dan hamba sahaya itupun merdeka pula setelah suaminya yang juga menjadi
tuanya itu meninggal dunia, juga apabila para penggembala unta yang tidak
pandai cakap- cakap saja bermegah- megahan didalam gedung besar.
Dalam lima perkara ini, tiada seorangpun
yang dapat mengetahui kapan waktu tibanya, melainkan Allah sendiri , kemudian
Nabi s.a.w. membacakan ayat yang artinya :’ sesungguhnya bagi Allah itu adalah
pengetahuan saat tibanya hari kiamat”.sampai habisnya ayat.
Jibril
kemudian berpaling maksudnya kembali. Beliau s.a.w. bersabda :” cobalah panggil
kembali orang itu !” tetapi para sahabat sudah tidak melihat sesuatu apapun
yakni orang itu tidak kelihatan dan bekas tumpahnyapun tidak ada . beliau
s.a.w. lalu bersabda :” orang itu tadi adalah sebenarnya jibril. Ia datang
untuk memberi pelajaran kepada seluruh umat manusia perihal agama mereka”
C. Keterangan Hadits
Hadits ini menerangkan tentang
pertanyaan yang dilontarkan jibril a.s
kepada Nabi Muhammad mengenai iman, islam, ihsan dan tentang hari
kiamat, dimana hal ini bertujuan untuk memberi pelajaran seluruh umat manusia
perihal agama mereka. Dan dalam konteks ini manusia dituntut untuk memahami
agama mereka dengan iman dan islam yakni membenarkan dalam hati dan mengerjakan dengan anggota. Dengan kata lain,
tidaklah syah pada syara’, seorang dihukumi mu’min sedang dia tidak muslim,
sebagaimana tidaklah syah seorang dihukumi muslim, sedang dia tidak
mukmin.demikianlah pengertian kesatuan iman dengan islam itu.
Dan ihsan sendiri yakni “berbuat kebaikan itu ialah hendaknya menyembah Allah
seolah-olah melihatnya”hamba
yang shalih adalah orang yang selalu mengoreksi diri dan senantiasa memantau
amal perbuatan maupun perkataanya, agar tetap dijalan yang lurus .Allah berfirman,
“Allah ridho terhadap mereka dan
merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi yang takut
kepada rabb-Nya.” (QS.bayyinah [98]:8).
dan tentang hari akhir manusia, dalam hadits digambarka tanda-tandanya dimana
manusia harus mempercayai adanya hari
akhir nanti, Allah berfirman, “sesungguhnya
bagi orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, kami sediakan bagi
mereka adzab yang pedih ,(QS. Al isra’ [17]:10 )
D. Aspek Tarbawi
a) Seorang
muslim diwajibkan menerapkan dan memahami benar tentang iman dan islam pada
dirinya.
b) Seorang
muslim dalam beribadah kepada Allah hendaknya bersungguh – sungguh dan
menjalankanya semata- mata hanya mencari
ridho Allah terlebih dalam hal ibadah.
c) Mempercayai
sebenar- benarnya akan datangnya hari
akhir dan tanda- tanda kedatannganya , termasuk meyakini kematian dan kehidupan
setelahnya.
Dalam aspek tarbawi point pertama seorang muslim diwajibkan menerapkan dan memahami benar tentang iman dan islam pada dirinya.
BalasHapusSeperti apa cara menerapkan pada dirinya dan orang lain, dan mana yang lebih penting yang harus didahului? realitanya yang kadang lebih mementingkan orang lain dari pada dirinya. bagaimana menyikapinya??
Claas H
• cara menerapkan iman dan islam pada diri dan orang lain.
BalasHapusMengingat pengertian iman itu sendiri yaitu dan perbuatan. Ucapan hati dan lisan, dan amal hati, lisan dan anggota tubuh. Sebagai orang percaya, iman kita dibangun di atas fondasi keberadaaan Allah, dan perlakuanNya terhadap orang yang mencariNya berbeda dengan perlakuanNya terhadap orang yang tidak mencariNya. Segera setelah benar-benar mempercayai kedua hal itu, kita mulai menyenangkan Allah, karena kita segera mencariNya. Makna dari mencari Allah adalah (1) mempelajari kehendakNya, (2) menaatiNya, dan (3) percaya janji-janjiNya. Ketiga makna itu hendaknya menjadi komponen perjalanan kita sehari-hari dalam menerapkan iman , selain itu juga kita dapat lebih memahami mendalam tentang macam- macam rukun iman dimana seperti yang sudah kita ketahui bahwa rukun iman itu sendiri ada 6 yaitu :
1. Percaya kepada allah swt
2. Percaya kepada malaikat- malaikat allah
3. Percaya kepada nabi dan rosul allah
4. Percaya kepada kitab- kitab Allah
5. Percaya pada hari akhir
6. Percaya pada qadha dan qadhar.
Dan untuk penerapanya pada orang lain semisal kita terapkan pada seorang anak, kita bisa memberi pelajaran dan pengertian tentang apa iman itu dimulai dari hal- hal yang dasar.
• Pendahuluan antara iman dan islam ..
Antara iman dan islam menurut saya tidaklah ada kata untuk mana yang didahulukan antara keduanya karena pada dasarnya iman dan islam itu merupakan satu kesatuan seperti yang sudah disebutkan dlm keterangan hadits diatas bahwa “tidaklah syah pada syara’, seorang dihukumi mu’min sedang dia tidak muslim, sebagaimana tidaklah syah seorang dihukumi muslim.